Penyakit Alzheimer
bukannya sejenis penyakit menular. Penyakit Alzheimer adalah keadaan di mana
daya ingatan seseorang merosot dengan parahnya sehingga pengidapnya tidak mampu
mengurus diri sendiri. Penyakit Alzheimer yang menurunkan
fungsi memori ini juga menjejaskan fungsi intelektual dan sosial penghidapnya. Penyakit
alzheimer bukan
hanya
disebabkan hanya faktor penuaan. Umur menjadi salah satu factor dan risikonya
berlipat dua setiap lima tahun setelah usia 65 tahun. Bagaimanapun, ilmuwan
berpendapat, penyakit alzheimer terkait dengan pembentukan dan perubahan pada
sel-sel saraf yang normal menjadi serat. Hasil bedah pengamatan, Alzheimer,
mendapati syaraf otak tersebut bukan saja mengecut, malah dipenuhi dengan
gumpalan protein yang luar biasa yang disebut plak amiloid dan serat yang
berbelit-belit (neuro fibrillary).
1.
Rumusan
pengetahuan ilmu kedokteran terhadap alzheimer
a.
Kerusakan Otak yang cepat memburuk dan
membawa maut. Penyakit ini merusakan sel otak, sehingga mengakibatkan hilangnya
kemampuan mengingat dan bermasalah dalam hal kemampuan berpikir. Terjadi
gangguan prilaku, hilangnya kemampuan beraktifitas, baik melaksanakan pekerjaan
dasar, hoby maupun kehidupan sosial. Penyakit Alzheimer, semakin lama menjadi
semakin parah dan berakibat fatal. Di Amerika Serikat penyakit ini tercatat
sebagai penyakit pembunuh ke-7.
b.
Penyebab Kepikunan terbanyak. Penyakit
Alzheimer merupakan penyakit yang sering dikaitkan (50 – 80% kasus) dengan
gangguan ingatan (memori) dan berbagai gangguan lain yang menyangkut kepandaian
dan berbagai kemampuan untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari. Selain penyakit
Alzheimer, ada penyakit otak lain yang juga menyebabkan gangguan memori.
c.
Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan.
Pengobatan yang diberikan hanya bersifat membantu menghilangkan gangguannya
saja, tanpa memberikan kesembuhan pada penyakit dasarnya. Banyak upaya yang
dilakukan dan tidak sedikit menghabiskan biaya untuk itu. Tetapi penyakit
Alzheimer tetap menempatkan dirinya sebagai salah satu dari sejumlah penyakit
“Degenerasi” (= penurunan fungsi) yang tidak dapat disembuhkan.
2.
Insidensi
Penyakit alzheimer
merupakan penyakit neurodegeneratif yang secara epidemiologi terbagi 2 kelompok
yaitu kelompok yang menderita pada usia kurang 58 tahun disebut sebagai early
onset sedangkan kelompok yang menderita pada usia lebih dari 58 tahun disebut
sebagai late onset. Penyakit alzheimer dapat timbul pada semua umur, 96% kasus
dijumpai setelah berusia 40 tahun keatas.
1000.000 pada usia 30-50 tahun, 95,8 per
100.000 pada usia lebih dari 80 tahun. Angka prevalensi penyakit ini per
100.000 populasi sekitar 300 pada kelompok usia 60-69 tahun, 3200 pada kelompok
usia 70-79 tahun, dan 10.800 pada usia 80 tahun. Diperkirakan pada tahun 2000
terdapat 2 juta penduduk penderita penyakit alzheimer. Sedangkan di Indonesia
diperkirakan jumlah usia lanjut berkisar 18,5 juta orang dengan angka insidensi
dan prevalensi penyakit alzheimer belum diketahui dengan pasti. Berdasarkan
jenis kelamin, prevalensi wanita lebih banyak tiga kali dibandingkan laki-laki.
Hal ini mungkin refleksi dari usia harapan hidup wanita lebih lama dibandingkan
laki-laki
3.
Gejala
penyakit Alzheimer
a. Simtoma
klinis
Gejala-gejala
Demensia Alzheimer sendiri meliputi gejala yang ringan sampai berat. Sepuluh
tanda-tanda adanya Demensia Alzheimer adalah :
1) Gangguan
memori yang memengaruhi keterampilan pekerjaan, seperti; lupa meletakkan kunci
mobil, lupa nomor telepon atau kardus obat yang biasa dimakan, lupa
mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan.
2) Kesulitan
melakukan tugas yang biasa dilakukan, seperti; tidak mampu melakukan perkara
asas seperti menguruskan diri sendiri.
3) Kesulitan
bicara dan berbahasa
4) Disorientasi
waktu, tempat dan orang, seperti; keliru dengan keadaan sekitar rumah, tidak
tahu membeli barang ke kedai, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga
terdekat.
5) Kesulitan
mengambil keputusan yang tepat
6) Kesulitan
berpikir abstrak, seperti; orang yang sakit juga mendengar suara atau bisikan
halus dan melihat bayangan menakutkan.
7) Salah
meletakkan barang
8) Perubahan
mood dan perilaku, seperti; menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat
untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.
9) Perubahan
kepribadian, seperti; seperti menjerit, terpekik dan mengikut perawat ke mana
saja walaupun ke WC.
10) Hilangnya
minat dan inisiatif.
b. Simtoma paraklinis
Pada otak
penderita Alzheimer, ditemukan:
1) Penumpukan
peptida dengan panjang 42-43 AA yang disebut amiloid-beta,dikelilingi neurita
distrofis. Amioid beta merupakan protein iris dari APP (bahasa Inggris: amyloid
precursor protein)
2) Filamen
PH yang menumpuk di dalam soma
3) Suatu
lesi yang disebut badan Lewy
4) Rasio
proNGF yang tinggi. ProNGF merupakan prekursor hormon NGF yang sering juga
ditemukan memiliki rasio tinggi pada manusia berusia lanjut
5) Rasio
protein S100-beta yang tinggi, sebuah protein yang selalu dijumpai pada fasa
perkembangan neurita. Interaksi antara protein S100-beta dan tau dianggap
merupakan simulator perkembangan neurita.
6) Tingginya
rasio kemokina CCL2 yang merupakan kemotaksis utama dari monosit.
7) Gangguan
metabolisme glukosa serebral pada area hipokampal, dan hilangnya neurotransmiter
kolinergic kortikal,dan rendahnya laju O-GlkNAsilasi pada otak
kecil.O-GlkNAsilasi adalah salah satu proses glikosilasi modifikasi
paska-translasi dari protein nukleositoplasma dengan beta-N-asetil-glukosamina
yang bergantung pada metabolisme glukosa.
A.
Patogenesa
dan Penanganan Alzheimer
1.
Patogenesa
Sejumlah patogenesa penyakit alzheimer
yaitu:
a. Penyakit-Penyakit Neurological:
Penyakit Parkinson, penyakit cerebrovascular dan stroke-stroke, tumor-tumor
otak, gumpalan-gumpalan darah, dan multiple sclerosis dapat adakalanya dihubungkan dengan alzheimer
meskipun banyak pasien-pasien dengan kondisi-kondisi ini secara kognitif adalah
normal.
b.Penyakit-Penyakit Infeksius:
Beberapa infeksi-infeksi otak seperti syphilis kronis, HIV kronis, atau
meningitis jamur kronis dapat menyebabkan alzheimer.
c. Efek-Efek Sampingan Dari Obat-Obat:
Banyak obat-obat dapat menyebabkan gangguan kognitif, terutama pada
pasien-pasien kaum tua. Obat-obat psikiatrik seperti obat-obat anti-depressants
dan anti-ketakutan dan obat-obat neurological seperti obat-obat anti-serangan
dapat juga dihubungkan dengan gangguan kognitif
d. Penyakit-Penyakit Psikiatrik:
Pada orang-orang yang lebih tua, beberapa bentuk-bentuk dari depresi dapat
menyebabkan persoalan-persoalan dengan memori dan konsentrasi yang awalnya
mungkin tidak dapat dibedakan dari gejala-gejala awal penyakit Alzheimer.
e. Penyalahgunaan Zat Kimia:
Penyalahgunaan obat-obat yang lega dan penyalahgunaan alkohol seringkali
dihubungkan dengan gangguan kognitif.
f. Penyakit-Penyakit Metabolik:
Disfungsi tiroid, beberapa penyakit-penyakit steroid, dan kekurangan-kekurangan
nutrisi seperti kekurangan vitamin B12 atau kekurangan thiamine adakalanya
dihubungkan dengan gangguan kognitif. Behan dan Felman (1970) melaporkan 60%
pasien yang menderita alzheimer didapatkan kelainan serum protein seperti
penurunan albumin dan peningkatan alpha protein, anti trypsin alphamarcoglobuli
dan haptoglobuli.
g.Trauma:
Luka-luka kepala yang signifikan dengan luka-luka memar otak mungkin
menyebabkan dementia. Gumpalan-gumpalan darah sekitar bagian luar dari otak
(subdural hematomas) mungkin juga dihubungkan dengan dementia.
h.Faktor-Faktor Racun:
Konsekwensi-konsekwensi jangka panjang dari keracunan carbon monoxide yang akut
dapat menjurus pada encephalopathy dengan alzheimer.
i. Faktor genetik,
beberapa peneliti mengungkapkan 50% prevalensi kasus alzheimer ini diturunkan
melalui gen autosomal dominan. Individu keturunan garis pertama pada keluarga
penderita alzheimer mempunyai resiko menderita demensia 6 kali lebih besar
dibandingkan kelompok kontrol normal.
j. Faktor Lingkungan,
Ekmann (1988), mengatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat berperan dalam
patogenesa penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antara lain, aluminium,
silikon, merkury, zink. Aluminium merupakan neurotoksik potensial pada susunan
saraf pusat yang ditemukan neurofibrillary tangles (NFT) dan senile plaque
(SPINALIS). Pada penderita alzheimer, juga ditemukan keadan ketidakseimbangan
merkuri, nitrogen, fosfor, sodium, dengan patogenesa yang belum jelas. Ada
dugaan bahwa asam amino glutamat akan menyebabkan depolarisasi melalui reseptor
N-methy D-aspartat sehingga kalsium akan masuk ke intraseluler (Cairan-infus)
dan menyebabkan kerusakan metabolisme energi seluler dengan akibat kerusakan
dan kematian neuron.
k.Faktor
neurotransmiter. Perubahan
neurotransmitter pada jaringan otak penderita alzheimer mempunyai peranan yang
sangat penting seperti:
a. Asetilkolin
Barties
et al (1982) mengadakan penelitian terhadap aktivitas spesifik neurotransmiter
dengan cara biopsi sterotaktik dan otopsi jaringan otak pada penderita
alzheimer didapatkan penurunan aktivitas kolinasetil transferase, asetikolinesterase
dan transport kolin serta penurunan biosintesa asetilkolin.
b. Noradrenalin
Kadar
metabolisma norepinefrin dan dopimin didapatkan menurun pada jaringan otak
penderita alzheimer. Hilangnya neuron bagian dorsal lokus seruleus yang
merupakan tempat yang utama noradrenalin pada korteks serebri. Bowen et
al(1988), melaporkan hasil biopsi dan otopsi jaringan otak penderita alzheimer
menunjukkan adanya defisit noradrenalin pada presinaptik neokorteks. Palmer et
al(1987), Reinikanen (1988), melaporkan konsentrasi noradrenalin menurun baik
pada post dan ante-mortem penderita alzheimer.
c. Serotonin
Didapatkan
penurunan kadar serotonin dan hasil metabolisme 5 hidroxi-indolacetil acid pada
biopsi korteks serebri penderita alzheimer. Penurunan juga didapatkan pada
nukleus basalis dari meynert. Penurunan serotonin pada subregio hipotalamus
sangat bervariasi, pengurangan maksimal pada anterior hipotalamus sedangkan
pada posterior peraventrikuler hipotalamus berkurang sangat minimal.
d.
MAO (Monoamine
Oksidase)
Enzim
mitokondria MAO akan mengoksidasi transmitter mono amine. Aktivitas normal MAO
terbagi 2 kelompok yaitu MAO A untuk deaminasi serotonin, norepineprin dan
sebagian kecil dopamin, sedangkan MAO B untuk deaminasi terutama dopamin. Pada
penderita alzheimer, didapatkan peningkatan MAO A pada hipothalamus dan frontais
sedangkan MAO B meningkat pada daerah temporal dan menurun pada nukleus basalis
dari meynert.
2.
Penanganan
Penanganan penyakit
alzheimer dapat melalui pengobatan, namun pengobatannya
1. Inhibitor kolinesterase
Beberapa
tahun terakhir ini, banyak peneliti menggunakan inhibitor untuk pengobatan
simptomatik penyakit alzheimer, dimana penderita alzheimer didapatkan penurunan
kadar asetilkolin. Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan
anti kolinesterase yang bekerja secara sentral seperti fisostigmin, THA
(tetrahydroaminoacridine). Pemberian obat ini dikatakan dapat memperbaiki
memori danapraksia selama pemberian berlangsung. Beberapa peneliti menyatakan
bahwa obat-obatan anti kolinergik akan memperburuk penampilan intelektual pada
orang normal dan penderita alzheimer.
2. Thiamin
Penelitian telah membuktikan bahwa pada penderita
alzheimer didapatkan penurunan thiamin pyrophosphatase dependent enzym yaitu 2
ketoglutarate (75%) dan transketolase (45%), hal ini disebabkan kerusakan
neuronal pada nukleus basalis.Pemberian thiamin hydrochlorida dengan dosis 3
gr/hari selama 3 bulan peroral, menunjukkan perbaikan bermakna terhadap fungsi
kognisi dibandingkan placebo selama periode yang sama.
3. Nootropik
Nootropik
merupakan obat psikotropik, telah dibuktikan dapat memperbaiki fungsi kognisi
dan proses belajar pada percobaan binatang. Tetapi pemberian 4000 mg pada
penderita alzheimer tidak menunjukkan perbaikan klinis yang bermakna.
4. Klonidin
Gangguan
fungsi intelektual pada penderita alzheimer dapat disebabkan kerusakan
noradrenergik kortikal. Pemberian klonidin (catapres) yang merupakan
noradrenergik alfa 2 reseptor agonis dengan dosis maksimal 1,2 mg peroral
selama 4 minggu, didapatkan hasil yang kurang memuaskan untuk memperbaiki
fungsi kognitif
5. Haloperiodol
Pada
penderita alzheimer, sering kali terjadi gangguan psikosis (delusi, halusinasi)
dan tingkah laku. Pemberian oral Haloperiod 1-5 mg/hari selama 4 minggu akan
memperbaiki gejala tersebut. Bila penderita alzheimer menderita depresi
sebaiknya diberikan tricyclic anti depresant (amitryptiline 25-100 mg/hari)
6. Acetyl L-Carnitine (ALC)
Merupakan
suatu subtrate endogen yang disintesa didalam miktokomdria dengan bantuan enzym
ALC transferase. Penelitian ini menunjukkan bahwa ALC dapat meningkatkan
aktivitas asetil kolinesterase, kolin asetiltransferase. Pada pemberian dosis
1-2 gr/hari/peroral selama 1 tahun dalam pengobatan, disimpulkan bahwa dapat
memperbaiki atau menghambat progresifitas kerusakan fungsi kognitif.
7. Deep Brain Stimulator Dapat
Meningkatkan Memori Penderita Alzheimer
Penelitian terbaru yang dirilis oleh jurnal Annals of Neurology edisi bulan Agustus 2010
menunjukkan bahwa setelah menanamkan DBS terhadap enam pasien pengidap penyakit
Alzheimer maka setengah dari pasien
mulai membaik memorinya atau mengalami
tingkat penurunan lebih lambat.
Menurut Dr Andres Lozano dan rekan-rekannya (Rumah Sakit Toronto
Barat) yang melakukan penelitian struktur stimulasi
listrik dalam otak termasuk hipotalamus
mungkin dapat memperbaiki gejala awal Alzheimer. Positive Emission Tomography
(PET) scan, tipe scan otak yang mengukur aktivitas metabolik yang digunakan
untuk menilai cara kerja perangkat DBS merubah metabolisme glukosa dalam otak.
(Penyakit Alzheimer dapat mengubah bagaimana glukosa digunakan di dalam otak.)
http://www.kingdombiologyirmawati.blogspot.com/2010/11/alzheimer.html'
.png)
.png)
.png)


0 komentar:
Posting Komentar