Sabtu, 07 April 2012

Alzheimer


Penyakit Alzheimer  merupakan sejenis penyakit penurunan fungsi saraf otak yang kompleks dan progresif. Penyakit Alzheimer’s  menyebabkan kematian sel saraf dan kehilangan jaringan di seluruh otak. Sebagai penyakit ini berlangsung, jaringan otak menyusut dan ventrikel (ruang  dalam otak yang berisi cairan serebrospinal) menjadi lebih besar. Berkurangnya secara nyata jumlah neuron, terutama di hipokampus, substansia inominat, lokus serules, dan korteks temporoparietal dan frontal. Timbulnya kekusutan neurofibrilar yang terbentuk dari pasangan filamen helik, bercak neuritik (argentofil), yang terdiri dari sebagian besar amiloid, dan menunjukan perkembangan yang profresif dan pasti (meskipun bercak tanpa amiloid juga ada) dan bangunan granulovakuolar. Perubahan neurokimiawi juga ditemukan, termasuk penurunan jumlah enzim kolin asetiltransferase, asetilkolin, dan juga neurotransmiter dan neuromodulator lainya. Keadaan ini diperburuk dengan penurunan zat neurotransmitter, yang berfungsi untuk menyampaikan sinyal antara satu sel otak dengan sel otak yang lainnya.

Penyakit Alzheimer bukannya sejenis penyakit menular. Penyakit Alzheimer adalah keadaan di mana daya ingatan seseorang merosot dengan parahnya sehingga pengidapnya tidak mampu mengurus diri sendiri. Penyakit Alzheimer yang menurunkan fungsi memori ini juga menjejaskan fungsi intelektual dan sosial penghidapnya. Penyakit alzheimer bukan hanya disebabkan hanya faktor penuaan. Umur menjadi salah satu factor dan risikonya berlipat dua setiap lima tahun setelah usia 65 tahun. Bagaimanapun, ilmuwan berpendapat, penyakit alzheimer terkait dengan pembentukan dan perubahan pada sel-sel saraf yang normal menjadi serat. Hasil bedah pengamatan, Alzheimer, mendapati syaraf otak tersebut bukan saja mengecut, malah dipenuhi dengan gumpalan protein yang luar biasa yang disebut plak amiloid dan serat yang berbelit-belit (neuro fibrillary).
1.      Rumusan pengetahuan ilmu kedokteran terhadap alzheimer
a.       Kerusakan Otak yang cepat memburuk dan membawa maut. Penyakit ini merusakan sel otak, sehingga mengakibatkan hilangnya kemampuan mengingat dan bermasalah dalam hal kemampuan berpikir. Terjadi gangguan prilaku, hilangnya kemampuan beraktifitas, baik melaksanakan pekerjaan dasar, hoby maupun kehidupan sosial. Penyakit Alzheimer, semakin lama menjadi semakin parah dan berakibat fatal. Di Amerika Serikat penyakit ini tercatat sebagai penyakit pembunuh ke-7.

b.      Penyebab Kepikunan terbanyak. Penyakit Alzheimer merupakan penyakit yang sering dikaitkan (50 – 80% kasus) dengan gangguan ingatan (memori) dan berbagai gangguan lain yang menyangkut kepandaian dan berbagai kemampuan untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari. Selain penyakit Alzheimer, ada penyakit otak lain yang juga menyebabkan gangguan memori.
c.       Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan. Pengobatan yang diberikan hanya bersifat membantu menghilangkan gangguannya saja, tanpa memberikan kesembuhan pada penyakit dasarnya. Banyak upaya yang dilakukan dan tidak sedikit menghabiskan biaya untuk itu. Tetapi penyakit Alzheimer tetap menempatkan dirinya sebagai salah satu dari sejumlah penyakit “Degenerasi” (= penurunan fungsi) yang tidak dapat disembuhkan.
2.      Insidensi
Penyakit alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang secara epidemiologi terbagi 2 kelompok yaitu kelompok yang menderita pada usia kurang 58 tahun disebut sebagai early onset sedangkan kelompok yang menderita pada usia lebih dari 58 tahun disebut sebagai late onset. Penyakit alzheimer dapat timbul pada semua umur, 96% kasus dijumpai setelah berusia 40 tahun keatas.
Schoenburg dan Coleangus (1987) melaporkan insidensi berdasarkan umur 4,4 per
1000.000 pada usia 30-50 tahun, 95,8 per 100.000 pada usia lebih dari 80 tahun. Angka prevalensi penyakit ini per 100.000 populasi sekitar 300 pada kelompok usia 60-69 tahun, 3200 pada kelompok usia 70-79 tahun, dan 10.800 pada usia 80 tahun. Diperkirakan pada tahun 2000 terdapat 2 juta penduduk penderita penyakit alzheimer. Sedangkan di Indonesia diperkirakan jumlah usia lanjut berkisar 18,5 juta orang dengan angka insidensi dan prevalensi penyakit alzheimer belum diketahui dengan pasti. Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi wanita lebih banyak tiga kali dibandingkan laki-laki. Hal ini mungkin refleksi dari usia harapan hidup wanita lebih lama dibandingkan laki-laki
3.      Gejala penyakit Alzheimer
a.       Simtoma klinis
Gejala-gejala Demensia Alzheimer sendiri meliputi gejala yang ringan sampai berat. Sepuluh tanda-tanda adanya Demensia Alzheimer adalah :
1)      Gangguan memori yang memengaruhi keterampilan pekerjaan, seperti; lupa meletakkan kunci mobil, lupa nomor telepon atau kardus obat yang biasa dimakan, lupa mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan.
2)      Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan, seperti; tidak mampu melakukan perkara asas seperti menguruskan diri sendiri.
3)      Kesulitan bicara dan berbahasa
4)      Disorientasi waktu, tempat dan orang, seperti; keliru dengan keadaan sekitar rumah, tidak tahu membeli barang ke kedai, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga terdekat.
5)      Kesulitan mengambil keputusan yang tepat
6)      Kesulitan berpikir abstrak, seperti; orang yang sakit juga mendengar suara atau bisikan halus dan melihat bayangan menakutkan.
7)      Salah meletakkan barang
8)      Perubahan mood dan perilaku, seperti; menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.
9)      Perubahan kepribadian, seperti; seperti menjerit, terpekik dan mengikut perawat ke mana saja walaupun ke WC.
10)  Hilangnya minat dan inisiatif.

b.      Simtoma paraklinis

Pada otak penderita Alzheimer, ditemukan:

1)      Penumpukan peptida dengan panjang 42-43 AA yang disebut amiloid-beta,dikelilingi neurita distrofis. Amioid beta merupakan protein iris dari APP (bahasa Inggris: amyloid precursor protein)
2)      Filamen PH yang menumpuk di dalam soma
3)      Suatu lesi yang disebut badan Lewy
4)      Rasio proNGF yang tinggi. ProNGF merupakan prekursor hormon NGF yang sering juga ditemukan memiliki rasio tinggi pada manusia berusia lanjut
5)      Rasio protein S100-beta yang tinggi, sebuah protein yang selalu dijumpai pada fasa perkembangan neurita. Interaksi antara protein S100-beta dan tau dianggap merupakan simulator perkembangan neurita.
6)      Tingginya rasio kemokina CCL2 yang merupakan kemotaksis utama dari monosit.
7)      Gangguan metabolisme glukosa serebral pada area hipokampal, dan hilangnya neurotransmiter kolinergic kortikal,dan rendahnya laju O-GlkNAsilasi pada otak kecil.O-GlkNAsilasi adalah salah satu proses glikosilasi modifikasi paska-translasi dari protein nukleositoplasma dengan beta-N-asetil-glukosamina yang bergantung pada metabolisme glukosa.
8)      Defisiensi CD36 atau EAAT.


A.    Patogenesa dan Penanganan Alzheimer
1.      Patogenesa
     Sejumlah patogenesa penyakit alzheimer yaitu:
a. Penyakit-Penyakit Neurological: Penyakit Parkinson, penyakit cerebrovascular dan stroke-stroke, tumor-tumor otak, gumpalan-gumpalan darah, dan multiple sclerosis  dapat adakalanya dihubungkan dengan alzheimer meskipun banyak pasien-pasien dengan kondisi-kondisi ini secara kognitif adalah normal.
b.Penyakit-Penyakit Infeksius: Beberapa infeksi-infeksi otak seperti syphilis kronis, HIV kronis, atau meningitis jamur kronis dapat menyebabkan alzheimer.
c. Efek-Efek Sampingan Dari Obat-Obat: Banyak obat-obat dapat menyebabkan gangguan kognitif, terutama pada pasien-pasien kaum tua. Obat-obat psikiatrik seperti obat-obat anti-depressants dan anti-ketakutan dan obat-obat neurological seperti obat-obat anti-serangan dapat juga dihubungkan dengan gangguan kognitif
d.      Penyakit-Penyakit Psikiatrik: Pada orang-orang yang lebih tua, beberapa bentuk-bentuk dari depresi dapat menyebabkan persoalan-persoalan dengan memori dan konsentrasi yang awalnya mungkin tidak dapat dibedakan dari gejala-gejala awal penyakit Alzheimer.
e. Penyalahgunaan Zat Kimia: Penyalahgunaan obat-obat yang lega dan penyalahgunaan alkohol seringkali dihubungkan dengan gangguan kognitif.
f. Penyakit-Penyakit Metabolik: Disfungsi tiroid, beberapa penyakit-penyakit steroid, dan kekurangan-kekurangan nutrisi seperti kekurangan vitamin B12 atau kekurangan thiamine adakalanya dihubungkan dengan gangguan kognitif. Behan dan Felman (1970) melaporkan 60% pasien yang menderita alzheimer didapatkan kelainan serum protein seperti penurunan albumin dan peningkatan alpha protein, anti trypsin alphamarcoglobuli dan haptoglobuli.
g.Trauma: Luka-luka kepala yang signifikan dengan luka-luka memar otak mungkin menyebabkan dementia. Gumpalan-gumpalan darah sekitar bagian luar dari otak (subdural hematomas) mungkin juga dihubungkan dengan dementia.
h.Faktor-Faktor Racun: Konsekwensi-konsekwensi jangka panjang dari keracunan carbon monoxide yang akut dapat menjurus pada encephalopathy dengan alzheimer.
i.  Faktor genetik, beberapa peneliti mengungkapkan 50% prevalensi kasus alzheimer ini diturunkan melalui gen autosomal dominan. Individu keturunan garis pertama pada keluarga penderita alzheimer mempunyai resiko menderita demensia 6 kali lebih besar dibandingkan kelompok kontrol normal.
j.  Faktor Lingkungan, Ekmann (1988), mengatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat berperan dalam patogenesa penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antara lain, aluminium, silikon, merkury, zink. Aluminium merupakan neurotoksik potensial pada susunan saraf pusat yang ditemukan neurofibrillary tangles (NFT) dan senile plaque (SPINALIS). Pada penderita alzheimer, juga ditemukan keadan ketidakseimbangan merkuri, nitrogen, fosfor, sodium, dengan patogenesa yang belum jelas. Ada dugaan bahwa asam amino glutamat akan menyebabkan depolarisasi melalui reseptor N-methy D-aspartat sehingga kalsium akan masuk ke intraseluler (Cairan-infus) dan menyebabkan kerusakan metabolisme energi seluler dengan akibat kerusakan dan kematian neuron.
k.Faktor neurotransmiter. Perubahan neurotransmitter pada jaringan otak penderita alzheimer mempunyai peranan yang sangat penting seperti:
a.       Asetilkolin
Barties et al (1982) mengadakan penelitian terhadap aktivitas spesifik neurotransmiter dengan cara biopsi sterotaktik dan otopsi jaringan otak pada penderita alzheimer didapatkan penurunan aktivitas kolinasetil transferase, asetikolinesterase dan transport kolin serta penurunan biosintesa asetilkolin.
b.      Noradrenalin
Kadar metabolisma norepinefrin dan dopimin didapatkan menurun pada jaringan otak penderita alzheimer. Hilangnya neuron bagian dorsal lokus seruleus yang merupakan tempat yang utama noradrenalin pada korteks serebri. Bowen et al(1988), melaporkan hasil biopsi dan otopsi jaringan otak penderita alzheimer menunjukkan adanya defisit noradrenalin pada presinaptik neokorteks. Palmer et al(1987), Reinikanen (1988), melaporkan konsentrasi noradrenalin menurun baik pada post dan ante-mortem penderita alzheimer.
c.       Serotonin
Didapatkan penurunan kadar serotonin dan hasil metabolisme 5 hidroxi-indolacetil acid pada biopsi korteks serebri penderita alzheimer. Penurunan juga didapatkan pada nukleus basalis dari meynert. Penurunan serotonin pada subregio hipotalamus sangat bervariasi, pengurangan maksimal pada anterior hipotalamus sedangkan pada posterior peraventrikuler hipotalamus berkurang sangat minimal.
d.      MAO (Monoamine Oksidase)
Enzim mitokondria MAO akan mengoksidasi transmitter mono amine. Aktivitas normal MAO terbagi 2 kelompok yaitu MAO A untuk deaminasi serotonin, norepineprin dan sebagian kecil dopamin, sedangkan MAO B untuk deaminasi terutama dopamin. Pada penderita alzheimer, didapatkan peningkatan MAO A pada hipothalamus dan frontais sedangkan MAO B meningkat pada daerah temporal dan menurun pada nukleus basalis dari meynert.
2.      Penanganan
Penanganan penyakit alzheimer dapat melalui pengobatan, namun pengobatannya
tidak menjamin seseorang terlepas secara utuh dari penyakit ini. Pengobatan penyakit alzheimer masih sangat terbatas oleh karena penyebab dan patofisiologis masih belun jelas. Pengobatan simptomatik dan suportif seakan hanya memberikan rasa puas pada penderita dankeluarga. Pemberian obat stimulan,  vitamin B, C, dan E belum mempunyai efek yang menguntungkan.
1. Inhibitor kolinesterase
Beberapa tahun terakhir ini, banyak peneliti menggunakan inhibitor untuk pengobatan simptomatik penyakit alzheimer, dimana penderita alzheimer didapatkan penurunan kadar asetilkolin. Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan anti kolinesterase yang bekerja secara sentral seperti fisostigmin, THA (tetrahydroaminoacridine). Pemberian obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori danapraksia selama pemberian berlangsung. Beberapa peneliti menyatakan bahwa obat-obatan anti kolinergik akan memperburuk penampilan intelektual pada orang normal dan penderita alzheimer.
2. Thiamin
Penelitian telah membuktikan bahwa pada penderita alzheimer didapatkan penurunan thiamin pyrophosphatase dependent enzym yaitu 2 ketoglutarate (75%) dan transketolase (45%), hal ini disebabkan kerusakan neuronal pada nukleus basalis.Pemberian thiamin hydrochlorida dengan dosis 3 gr/hari selama 3 bulan peroral, menunjukkan perbaikan bermakna terhadap fungsi kognisi dibandingkan placebo selama periode yang sama.
3. Nootropik
Nootropik merupakan obat psikotropik, telah dibuktikan dapat memperbaiki fungsi kognisi dan proses belajar pada percobaan binatang. Tetapi pemberian 4000 mg pada penderita alzheimer tidak menunjukkan perbaikan klinis yang bermakna.
4. Klonidin
Gangguan fungsi intelektual pada penderita alzheimer dapat disebabkan kerusakan noradrenergik kortikal. Pemberian klonidin (catapres) yang merupakan noradrenergik alfa 2 reseptor agonis dengan dosis maksimal 1,2 mg peroral selama 4 minggu, didapatkan hasil yang kurang memuaskan untuk memperbaiki fungsi kognitif
5. Haloperiodol
Pada penderita alzheimer, sering kali terjadi gangguan psikosis (delusi, halusinasi) dan tingkah laku. Pemberian oral Haloperiod 1-5 mg/hari selama 4 minggu akan memperbaiki gejala tersebut. Bila penderita alzheimer menderita depresi sebaiknya diberikan tricyclic anti depresant (amitryptiline 25-100 mg/hari)
6. Acetyl L-Carnitine (ALC)
Merupakan suatu subtrate endogen yang disintesa didalam miktokomdria dengan bantuan enzym ALC transferase. Penelitian ini menunjukkan bahwa ALC dapat meningkatkan aktivitas asetil kolinesterase, kolin asetiltransferase. Pada pemberian dosis 1-2 gr/hari/peroral selama 1 tahun dalam pengobatan, disimpulkan bahwa dapat memperbaiki atau menghambat progresifitas kerusakan fungsi kognitif.
7. Deep Brain Stimulator Dapat Meningkatkan Memori Penderita Alzheimer
Penyisipan sebuah alat  Deep Brain Stimulator (DBS)  dapat meningkatkan memori dan fungsi untuk pasien dengan penyakit Alzheimer. Deep Brain Simulator adalah sebuah perangkat serupa dengan alat pacu jantung untuk otak.

Penelitian terbaru yang dirilis oleh jurnal  Annals of Neurology edisi bulan Agustus 2010 menunjukkan bahwa setelah menanamkan DBS terhadap enam pasien pengidap penyakit Alzheimer maka  setengah dari pasien mulai  membaik memorinya atau mengalami tingkat penurunan lebih lambat.
Menurut Dr Andres Lozano  dan rekan-rekannya (Rumah Sakit Toronto Barat) yang melakukan penelitian struktur stimulasi listrik dalam  otak termasuk hipotalamus mungkin dapat  memperbaiki gejala  awal Alzheimer. Positive Emission Tomography (PET) scan, tipe scan otak yang mengukur aktivitas metabolik yang digunakan untuk menilai cara kerja perangkat DBS merubah metabolisme glukosa dalam otak. (Penyakit Alzheimer dapat mengubah bagaimana glukosa digunakan di dalam otak.)
http://www.kingdombiologyirmawati.blogspot.com/2010/11/alzheimer.html'

0 komentar:

Posting Komentar