A. Kekenyalan (Elastisitas) Pembuluh
Darah
Kekenyalan
(Elastisitas) pembuluh darah adalah suatu keadaan pembuluh darah yang menjadi
lebih besar untuk beberapa menit setelah mengalami peningkatan tekanan (Taiyeb,
.
Tekanan
dalam hal denyutan pembuluh dinyatakan sebagai ekspansi dan dorongan balik
arteri secara bergantian. Ada dua faktor yang bertnaggug jawab bagi
kelangsungan denyautan yang dapat dirasakan :
1.
Pemberian darah secara berkala dengan
selang waktu pendek dai jantung ke aorta yang tekanannya berganti-ganti naik
turun dalam pembuluh darah.
2.
Elastisitas dinding arteri yang
memungkinkannya meneruskan aliran darah dan aliran balik. Bila dinding tidak
elastic, seperti pada dinding sebuah gelas, masih tetap ada pergatian sebuah
tekanan tinggi rendah dalam sistol dan diastole ventrikel, namun dinding
tersebut tidak data melanjutkan aliran dan mengembalikan aliran sehingga denyut
pun tidak dapat dirasakan.
Kekenyalan
pembuluh darah dapat diperlihatkan dengan suatu percobaan sebagai beikut;
mula-mula sepotong pembuluh balik diikat di kedua ujungnya. Kemudian ke
dalamnya dimasukkan darah sehingga tekanan di dalamnya miningkat dari 5 mmHg
menjadi 12 mmHg. Meskipun tidak ada darah yang keluar dari pembuluh itu,
terlihat bahwa tekanan menurun sampai mendekati 6 mmHg setelah beberapa menit.
Dengan kata lain, sejumlah darah yang dimasukkan ke dalam pembuluh balik itu
menyebabkan pembuluh tersebut mengembang. Lama kelamaan serabut otot padanya
mulai menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru. Sifat otot polos yang
demikian itu disebut kekenyalan atau disebut juga pengendoran tekanan (stress
relaxation) (Taiyeb, ).
Setelah
terjadi kekenyalan, darah kemudian dikeluarkan dari pembuluh balik itu.
terlihat tekanan menurun sampai tingkat yang rendah. untuk kedua kali otot
polos pada pembuluh bailik mulai kembali menyesuaikan diri dan tekanan akan
kembali naik sampai tekanan 5 mmHg. Pengaruh ini disebut kekenyalan yang
terbalik (Taiyeb, ).
Kekenyalan
pembuluh nadi hanya kecil bila dibandingkan dengan pembuluh balik. Dengan
demikian, bila tekanan pembuluh balik ditingkatkan agak lama, maka volume darah
di dalamnya dapat meningkat 2 sampai 3 kali. Ini merupakan mekanisme yang
sangat penting, karena dengan demikian system peredaran dapat menampung lebih
banyak darah bilamana perlu. Sedangkan sebaliknya, bila tekanan menurun,
kekenyalan merupakan suatu cara bagi system peredaran untuk dapat menyesuaikan
terhadap kehilangan darah sebagai akibat
pendarahan (Taiyeb, ).
Elastisitas
pembuluh darah akan berpengaruh kepada aliran darah. Salah satu pembuluh darah
yang mengalami elastisitas adalah arteri.
Pada saat darah dipompa ke dalam arteri-arteri saat sistol ventrikel,
volume darah yang masuk arteri dari jantunglebih besar daripada volune darah
yang meninggalkan arteri untuk mengalir ke pembuluh-pembuluh darah yang lebih
kecil di hilir, karena pembuluh-pembuluh kecil tersebut memiliki resistensi
terhadap aliran yang lebih besar. Sifat elastisitas menyebabkan arteri dapat
membesar/mengembang untuk secara sementara menampung kelebihan volume darah ini
dan menyimpan sebagian energi tekanan yang ditimbulkan oleh kontraksi jantung
di dinding yang teregang-seperti sebuah balon yang meregang untuk mengakomodasi
tambahan udara yang ditiup ke dalamnya. Ketika jantung melemas dan berhenti
memompa darah ke dalam arteri, dinding arteri yang teregang secara pasif
kembali ke bentuk semula (recoil), seperti balon yang lubangnya dibuka. Recoil
ini mendorong kelebihan darah yang terkandung di dalam arteri-arteri ke dalam
pembuluh di hilir yang memastikan bahwa darah tetap mengalir ke jaringan
sewaktu jantung beristirahat dan tidak
sedang memompa darah ke jantung (Sherwood, 2001).
B. Faktor yang Mempengaruhi Kekenyalan
(Elastisitas) Pembuluh Darah
Semua
pembuluh darah dilapisi oleh satu lapisan sel endotel gepeng halus yang
bersambungan dengan lapisan endokardium jantung. Lapisan endotel arteri
dikelilingi oleh suatu dinding tebal yang mengandung otot polos dan dua jenis
jaringan ikat dalam jumlah besar.: serat
kalogen yang menghasilkan daya rentang (tensile strength) terhadap tekanan
tinggi darah yang disemprotkan dari jantung, dan serat elastin yang memberi dinding arteri elastisitas sehingga
arteri dapat berperilaku seperti balon (Sherwood, 2001).
Karena elastisitasnya arteri-arteri berfungsi
sebagai reservoir tekanan. Arteri elastic teregang selama sistol jantung karena
darah yang masuk lebih banyak daripada yang keluar ke arteriol-arteriol di
hilir yang sempit dan memiliki resistensi tinggi. Recoil elastic arteri selama
diastol jantung terus mendorong ddarah ke depan sewaktu jantung tidak sedang
memompa.
Arteri
yang sangat elastic mengangkut darah dari jantung ke jaringan dan berfungsi
sebagai reservoir tekanan untuk terus mendorong darah ke depan sewaktu jantung
sedang mengalami relaksasi dan
pengisian. Jaringan ikat vena memiliki serat-serat kolagen jauh lebih banyak
dibandingkan serat elastin, vena kurang memiliki elastisitas dibanding dengan arteri. Juga, tidak seperti otot polos
arteriol, otot polos vena kurang memiliki tonus miogenik inheren. Karena
sifat-sifat ini, vena sangat mudah direnggangkan dan kurang memiliki kemampuan
recoil elastis. Vena mudah melebar untuk mengakomodasi tambahan volume darah
hanya dengan menimbulkan sedikit peningkatan
pembuluh vena. Arteri yang teregang akibat kelebihan darah akan kembali
menciut karena adanya serat-serta elastis didindingnya , sehingga darah
terdorong ke depan. Vena-vena yang mendapat kelebihan pasokan darah hanya akan
teregang untuk mengakomodasi darah tambahan itu tanpa kecenderungan menciut.
Dengan cara ini vena berfungsi sebagai reservoir darah, yaitu apabila kebutuhan
akan darah rendah, vena-vena dapat menyimpan darah ekstra sebagai cadangan
karena sifat mereka yang mudah diregangkan (Sherwood, 2001).
C. Dampak Ketidak kenyalan Pembuluh
Darah
Menurut Anonim (2011),
dampak ketidak kenyalan pembuluh darah:
1.
Berkurangnya elastisitas pembuluh darah, akan mengganggu
aliran darah ke jantung. Akibatnya, jantung kekurangan oksigen dan nutrisi.
Jantung mengalami kerusakan dan tidak dapat bekerja sebagai mana mestinya.
2. Naiknya
tekanan sistolik karena pembuluh darah tidak elastis serta naiknya tekanan
diastolik akibat penyempitan pembuluh darah tersebut, dikenal dengan istilah
tekanan darah tinggi atau hipertensi. Nama lengkapnya adalah hipertensi
esensial.
3. Merokok menyebabkan elastisitas pembuluh darah
berkurang, sehingga meningkatkan pengerasan pembuluh darah arteri, dan
meningkatkan faktor pembekuan darah yang memicu penyakit jantung dan stroke.
Perokok mempunyai peluang terkena stroke dan jantung koroner sekitar dua kali
lipat lebih tinggi dibanding dengan bukan perokok


0 komentar:
Posting Komentar