Sabtu, 07 April 2012

Elastisitas Pembuluh Darah


A.  Kekenyalan (Elastisitas) Pembuluh Darah
Kekenyalan (Elastisitas) pembuluh darah adalah suatu keadaan pembuluh darah yang menjadi lebih besar untuk beberapa menit setelah mengalami peningkatan tekanan (Taiyeb, .
Tekanan dalam hal denyutan pembuluh dinyatakan sebagai ekspansi dan dorongan balik arteri secara bergantian. Ada dua faktor yang bertnaggug jawab bagi kelangsungan denyautan yang dapat dirasakan :
1.               Pemberian darah secara berkala dengan selang waktu pendek dai jantung ke aorta yang tekanannya berganti-ganti naik turun dalam pembuluh darah.
2.               Elastisitas dinding arteri yang memungkinkannya meneruskan aliran darah dan aliran balik. Bila dinding tidak elastic, seperti pada dinding sebuah gelas, masih tetap ada pergatian sebuah tekanan tinggi rendah dalam sistol dan diastole ventrikel, namun dinding tersebut tidak data melanjutkan aliran dan mengembalikan aliran sehingga denyut pun tidak dapat dirasakan.
Kekenyalan pembuluh darah dapat diperlihatkan dengan suatu percobaan sebagai beikut; mula-mula sepotong pembuluh balik diikat di kedua ujungnya. Kemudian ke dalamnya dimasukkan darah sehingga tekanan di dalamnya miningkat dari 5 mmHg menjadi 12 mmHg. Meskipun tidak ada darah yang keluar dari pembuluh itu, terlihat bahwa tekanan menurun sampai mendekati 6 mmHg setelah beberapa menit. Dengan kata lain, sejumlah darah yang dimasukkan ke dalam pembuluh balik itu menyebabkan pembuluh tersebut mengembang. Lama kelamaan serabut otot padanya mulai menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru. Sifat otot polos yang demikian itu disebut kekenyalan atau disebut juga pengendoran tekanan (stress relaxation) (Taiyeb, ).
Setelah terjadi kekenyalan, darah kemudian dikeluarkan dari pembuluh balik itu. terlihat tekanan menurun sampai tingkat yang rendah. untuk kedua kali otot polos pada pembuluh bailik mulai kembali menyesuaikan diri dan tekanan akan kembali naik sampai tekanan 5 mmHg. Pengaruh ini disebut kekenyalan yang terbalik (Taiyeb,     ).
Kekenyalan pembuluh nadi hanya kecil bila dibandingkan dengan pembuluh balik. Dengan demikian, bila tekanan pembuluh balik ditingkatkan agak lama, maka volume darah di dalamnya dapat meningkat 2 sampai 3 kali. Ini merupakan mekanisme yang sangat penting, karena dengan demikian system peredaran dapat menampung lebih banyak darah bilamana perlu. Sedangkan sebaliknya, bila tekanan menurun, kekenyalan merupakan suatu cara bagi system peredaran untuk dapat menyesuaikan terhadap kehilangan darah sebagai akibat   pendarahan (Taiyeb,    ).
Elastisitas pembuluh darah akan berpengaruh kepada aliran darah. Salah satu pembuluh darah yang mengalami elastisitas adalah arteri.  Pada saat darah dipompa ke dalam arteri-arteri saat sistol ventrikel, volume darah yang masuk arteri dari jantunglebih besar daripada volune darah yang meninggalkan arteri untuk mengalir ke pembuluh-pembuluh darah yang lebih kecil di hilir, karena pembuluh-pembuluh kecil tersebut memiliki resistensi terhadap aliran yang lebih besar. Sifat elastisitas menyebabkan arteri dapat membesar/mengembang untuk secara sementara menampung kelebihan volume darah ini dan menyimpan sebagian energi tekanan yang ditimbulkan oleh kontraksi jantung di dinding yang teregang-seperti sebuah balon yang meregang untuk mengakomodasi tambahan udara yang ditiup ke dalamnya. Ketika jantung melemas dan berhenti memompa darah ke dalam arteri, dinding arteri yang teregang secara pasif kembali ke bentuk semula (recoil), seperti balon yang lubangnya dibuka. Recoil ini mendorong kelebihan darah yang terkandung di dalam arteri-arteri ke dalam pembuluh di hilir yang memastikan bahwa darah tetap mengalir ke jaringan sewaktu  jantung beristirahat dan tidak sedang memompa darah ke jantung (Sherwood, 2001).


B.  Faktor yang Mempengaruhi Kekenyalan (Elastisitas) Pembuluh Darah
Semua pembuluh darah dilapisi oleh satu lapisan sel endotel gepeng halus yang bersambungan dengan lapisan endokardium jantung. Lapisan endotel arteri dikelilingi oleh suatu dinding tebal yang mengandung otot polos dan dua jenis jaringan ikat dalam jumlah besar.: serat kalogen yang menghasilkan daya rentang (tensile strength) terhadap tekanan tinggi darah yang disemprotkan dari jantung, dan serat elastin yang memberi dinding arteri elastisitas sehingga arteri dapat berperilaku seperti balon (Sherwood, 2001).
 Karena elastisitasnya arteri-arteri berfungsi sebagai reservoir tekanan. Arteri elastic teregang selama sistol jantung karena darah yang masuk lebih banyak daripada yang keluar ke arteriol-arteriol di hilir yang sempit dan memiliki resistensi tinggi. Recoil elastic arteri selama diastol jantung terus mendorong ddarah ke depan sewaktu jantung tidak sedang memompa.
Arteri yang sangat elastic mengangkut darah dari jantung ke jaringan dan berfungsi sebagai reservoir tekanan untuk terus mendorong darah ke depan sewaktu jantung sedang  mengalami relaksasi dan pengisian. Jaringan ikat vena memiliki serat-serat kolagen jauh lebih banyak dibandingkan serat elastin, vena kurang memiliki elastisitas dibanding dengan  arteri. Juga, tidak seperti otot polos arteriol, otot polos vena kurang memiliki tonus miogenik inheren. Karena sifat-sifat ini, vena sangat mudah direnggangkan dan kurang memiliki kemampuan recoil elastis. Vena mudah melebar untuk mengakomodasi tambahan volume darah hanya dengan menimbulkan sedikit peningkatan  pembuluh vena. Arteri yang teregang akibat kelebihan darah akan kembali menciut karena adanya serat-serta elastis didindingnya , sehingga darah terdorong ke depan. Vena-vena yang mendapat kelebihan pasokan darah hanya akan teregang untuk mengakomodasi darah tambahan itu tanpa kecenderungan menciut. Dengan cara ini vena berfungsi sebagai reservoir darah, yaitu apabila kebutuhan akan darah rendah, vena-vena dapat menyimpan darah ekstra sebagai cadangan karena sifat mereka yang mudah diregangkan (Sherwood, 2001). 
C.  Dampak Ketidak kenyalan Pembuluh Darah
Menurut Anonim (2011), dampak ketidak kenyalan pembuluh darah:
1.    Berkurangnya elastisitas pembuluh darah, akan mengganggu aliran darah ke jantung. Akibatnya, jantung kekurangan oksigen dan nutrisi. Jantung mengalami kerusakan dan tidak dapat bekerja sebagai mana mestinya.
2.    Naiknya tekanan sistolik karena pembuluh darah tidak elastis serta naiknya tekanan diastolik akibat penyempitan pembuluh darah tersebut, dikenal dengan istilah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Nama lengkapnya adalah hipertensi esensial.
3.    Merokok menyebabkan elastisitas pembuluh darah berkurang, sehingga meningkatkan pengerasan pembuluh darah arteri, dan meningkatkan faktor pembekuan darah yang memicu penyakit jantung dan stroke. Perokok mempunyai peluang terkena stroke dan jantung koroner sekitar dua kali lipat lebih tinggi dibanding dengan bukan perokok

0 komentar:

Posting Komentar